Pemujaan atau Penghormatan?: Refleksi Konsep Anamnesis dalam Tradisi Sembahyang kepada Leluhur pada Malam Sincia
DOI:
https://doi.org/10.21460/aradha.2025.53.1596Keywords:
contextual theology, anamnesis, ancestral veneration, Lunar New Year, Chinese culture, teologi kontekstual, penghormatan leluhur, malam Sincia, budaya TionghoaAbstract
Abstract
The relationship between Christian faith and culture is often marked by suspicion, particularly toward traditional religious practices that are perceived as conflicting with the Gospel. In the Indonesian context, the legacy of Western missionary movements has significantly shaped Christian attitudes that tend to regard Eastern cultures, including ancestral veneration within Chinese traditions, as forms of idolatry to be rejected. One practice that exemplifies this theological tension is the ritual of honoring ancestors during the Lunar New Year (Sincia).
This paper critically examines whether such practices should be understood solely as worship, or whether they may be reinterpreted as acts of remembrance and respect that resonate with Christian theology. Employing Stephen B. Bevans’ countercultural model of contextual theology, this paper offers a critical–dialogical reading of ancestral veneration in Chinese culture. The analysis is further developed through the Christian concept of anamnesis, which understands remembrance not merely as recalling the past, but as a faith practice that makes
the past meaningfully present within the life of the community. Engaging the theological insights of Stephen B. Bevans and Aloysius Pieris, this paper argues that honoring ancestors does not inherently contradict Christian faith when detached from elements of worship and reinterpreted as an anamnestic practice. Rather than reinforcing a rigid dichotomy between faith and culture, this study proposes a contextual theological framework that enables Chinese Christians to embody their faith without abandoning their cultural identity.
Abstrak
Relasi antara iman Kristen dan budaya kerap ditandai oleh sikap kecurigaan, khususnya terhadap praktik-praktik religius tradisional yang dianggap bertentangan dengan Injil. Dalam konteks Indonesia, warisan misi Barat turut membentuk pola pikir Kekristenan yang cenderung menilai budaya Timur, termasuk tradisi penghormatan kepada leluhur dalam budaya Tionghoa, sebagai bentuk pemujaan yang harus ditolak. Salah satu praktik yang memunculkan ketegangan teologis tersebut adalah tradisi sembahyang kepada leluhur pada malam Sincia.
Paper ini mempertanyakan apakah praktik tersebut harus dipahami semata-mata sebagai pemujaan, ataukah dapat dimaknai sebagai bentuk penghormatan dan pengingatan yang memiliki resonansi dengan iman Kristen. Dengan menggunakan model budaya tandingan dari Stephen B. Bevans, paper ini melakukan pembacaan kontekstual yang kritis terhadap tradisi penghormatan kepada leluhur. Analisis ini diperdalam melalui konsep anamnesis dalam tradisi iman Kristen, yang memahami tindakan mengingat bukan sekadar mengenang masa
lalu, melainkan menghadirkannya secara bermakna dalam kehidupan iman masa kini. Melalui dialog dengan pemikiran Stephen B. Bevans dan Aloysius Pieris, paper ini berargumen bahwa penghormatan kepada leluhur tidak serta-merta bertentangan dengan iman Kristen apabila dilepaskan dari dimensi pemujaan dan dibaca sebagai praktik anamnetik. Dengan demikian, paper ini menolak dikotomi sederhana antara iman dan budaya, serta menawarkan kerangka teologi kontekstual yang memungkinkan orang Kristen Tionghoa menghayati iman tanpa menanggalkan identitas kulturalnya.


