Seolah-olah Selaput Gugur Dari Matanya: Upaya Menafsirkan Teks Kisah ParaRasul 9:1-19a dari Perspektif Zen
DOI:
https://doi.org/10.21460/aradha.2026.61.1602Keywords:
Zen, seeing through, multifaith hermeneutics, Acts 9:1-19a, Saul, Hermeneutik multi iman, Kisah Para Rasul 1:1-19a, SaulusAbstract
Abstract
One contextual method of interpreting the Bible in Asia is cross-cultural hermeneutics, which involves interpreting biblical texts through perspectives outside the Bible. While this article employs cross-cultural hermeneutics to interpret Acts 9:1-19a, it specifically refers to the method as the seeing-through approach, a terminology explained further within the text. Specifically, a Zen perspective is applied to analyze the narrative of Saul’s journey to Damascus and his subsequent blindness. While several interpretations suggest that Saul experienced literal physical blindness often described as scales covering his eyes. Reading the story through a Zen lens suggests that his journey and the restoration of his sight represent more than a physical event but an experience of enlightenment. Zen is identical to the experience of Satori, which is the attainment of a new perspective achieved by removing the obstacles that hinder the enlightenment of the mind.
Abstrak
Salah satu metode penafsiran Alkitab yang kontekstual di Asia yakni Cross-cultural hermeneutics merupakan metode yang menafsiran teks Alkitab dengan menggunakan Perspektif di luar Alkitab. Metode cross-cultural hermeneutics ini yang digunakan dalam penafsiran terhadap Kisah Para Rasul 1:1-19a, namun dalam artikel ini metode tersebut disebut dengan pendekatan seeing through. Alasan penggunaan istilah seeing through dijelaskan dalam artikel ini. Perspektif Zen digunakan dalam artikel ini untuk menafsirkan kisah perjalanan Saulus ke Damsyik dan mengalami kebutaan. Beberapa tulisan tafsir menunjukkan bahwa Paulus benar-benar mengalami kebutaan secara fisik, seperti adanya sisik menutupi mata Saulus. Ketika kisah tersebut dibaca dengan menggunakan Perspektif Zen, maka kisah perjalanan Saulus hingga matanya kembali dapat melihat tidak hanya dipahami secara fisik saja namun juga pengalaman pencerahan. Zen sendiri identik dengan pencerahan atau satori. Satori adalah perolehan sudut pandang yang baru dengan menghilangnya penghalang yang selama ini menghalangi pencerahan terhadap pikiran.


