Mewujudkan Pendidikan Perdamaian di Sekolah: Tinjauan Pendidikan Perdamaian Terhadap Realisasi Program Sekolah Keberagaman di Kota Kupang

Authors

  • Deva Arifia Doki Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.21460/aradha.2026.62.1611

Keywords:

peace education, diversity school, multicultural, Kompak, Kupang City, pendidikan perdamaian, sekolah keberagaman, multikultural, Kota Kupang

Abstract

Abstract
This paper focuses on the implementation of peace education in schools, specifically within the context of a diversity program in Kupang City, East Nusa Tenggara. The program was established in response to ongoing ethnic, racial, cultural, and religious conflicts in the city. Notably, within the school environment, there are indications of frequent violence, bullying, and even intolerance among teachers and students. The implementation of this diversity based school program is facilitated and supported by the Kupang City Peace Maker Community (KOMPAK). To prepare this paper, the author employed a descriptive qualitative research
method. The author outlines the program’s implementation process based on interviews with the head of the peace maker community—who serves as the program implementer—and three students from a public high school in Kupang City. The interview results indicate that the program significantly helps students understand and cultivate an attitude of tolerance toward religious, ethnic, and racial diversity in Kupang City. There are 14 indicators for this program to achieve its goal of fostering education on diversity. These indicators include, among others, the provision of scriptures from various religions, journalism workshops, teacher training, and
the encouragement of participants to visit places of worship belonging to different faiths. This approach aligns with the principle of peace education—cited by the author John Dewey—that education should be a process of learning through experience. Through such experiences, students can derive their own meaning and reconstruct their understanding. The author also analyzes these 14 indicators based on James A. Banks’ four stages of multicultural education. Although the indicators are categorized according to these stages, the analysis reveals that their scope encompasses only three stages: the contributions approach, the additive approach, and the transformation approach. Meanwhile, the final stage—social action—has not yet been
reached, neither in terms of the indicators nor in actual practice in the field.

Abstrak
Fokus tulisan ini mengacu pada implementasi pendidikan perdamaian di Sekolah khususnya dalam konteks program sekolah keberagaman yang ada di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Terbentuknya program ini sebagai salah satu respon atas berbagai konflik suku, ras, budaya dan agama yang masih terjadi di Kota Kupang. Khususnya dalam lingkungan sekolah, masih terdapat indikasi sering terjadi kekerasan, perundungan bahkan intoleransi antar guru maupun murid. Pelaksanaan sekolah keberagaman ini difasilitasi dan didampingi oleh Komunitas Peace Maker Kota Kupang (KOMPAK). Maka dari itu, untuk mendukung pengembangan tentang
tulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penulis akan menggambarkan bagaimana proses pelaksanaan program sekolah keberagaman melalui wawancara dengan ketua komunitas peace maker selaku pelaksana dan tiga siswa/i dari SMA Negeri yang ada di Kota Kupang. Berdasarkan hasil wawancara, program ini sangat membantu para peserta didik untuk memahami, mengerti dan menumbuhkan rasa toleransi mereka terhadap keberagaman agama, suku maupun ras yang ada di Kota Kupang. Terdapat juga 14 indikator program ini untuk mencapai tujuan dari sekolah keberagaman. Beberapa diantaranya ada pengadaan Kitab Suci setiap agama, workshop jurnalistik, pelatihan untuk para pengajar, mengajak para peserta untuk mengunjungi rumah-rumah ibadah setiap agama. Hal ini selaras juga dengan prinsip pendidikan perdamaian yang penulis kutip dari John Dewey bahwa pendidikan itu sudah semestinya belajar dari pengalaman. Dari pengalaman tersebut, para peserta didik dapat memberi makna tersendiri bahkan merekonstruksi kembali pemahaman mereka. Penulis juga menganalisis 14 indikator ini dalam empat tahap pendidikan multikultural menurut James A. Banks. Terdapat pengelompokkan indikator berdasarkan tahap pendidikan multikultural namun setelah dianalisis, hanya masuk dalam tiga tahap yakni kontribusi, aditif
dan transformasi. Sedangkan tahap yang terakhir yakni tahap aksi-sosial, indikator maupun praktiknya belum tercapai.

Downloads

Published

2026-08-31