Belajar dari Akar Rumput: Rekonstruksi Dialog Lintas Iman Berbasis Praksis Sosial

Authors

  • Fitria Rambu Sabatti Doki Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.21460/aradha.2026.62.1666

Keywords:

interfaith relations, grassroots, hospitality, formal pluralism, local wisdom, relasi lintas agama, akar rumput, hospitalitas, pluralisme formal, kearifan lokal

Abstract

Abstract
Interfaith relations at the grassroots level represent authentic diversity practices. However, this relationship often escapes the attention of formal religious and state institutions. Efforts to maintain harmony and harmony between religions are usually entrusted to formal institutions, which often fail to understand the complexity of problems that occur in society. Based on research by Suryaningsih Mila and Solfina Kolambani regarding the community in Watu Asa Village, Central Sumba, this article shows that interfaith relations thrive through the practice of living together—such as mutual cooperation, local wisdom, and strong family values. These relationships exist without a specific agenda, theological baggage, or formal structure; In fact, it creates a wide space for the realization of harmony and respect for differences. Using Amos Yong’s theory of hospitality, Yahya Wijaya’s concept of interreligious friendship, and criticism of formal pluralism by Marcus Mietzner and Burhanuddin Muhtadi, I propose a reconstruction of the formal dialogue approach to be more open to grassroots practices as a source of spiritual and social learning. Informal relationships that exist between people of different beliefs provide opportunities for religious institutions and the state to ground the values of tolerance in a more real and contextual way.

Abstrak
Relasi lintas agama di tingkat akar rumput sesungguhnya adalah praktik keberagaman yang otentik. Namun relasi ini sering kali luput dari perhatian lembaga-lembaga formal agama maupun negara. Upaya untuk menjaga keharmonisan dan kerukunan antar agama dilekatkan pada lembaga-lembaga formal, yang kerap kali justru tidak mampu menangkap kompleksitas persoalan yang terjadi dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan hasil penelitian Suryaningsih Mila dan Solfina Kolambani dalam konteks masyarakat di Desa Watu Asa - Sumba Tengah, tulisan ini menunjukkan bahwa relasi antarumat beragama terjalin dengan baik melalui berbagai praktik hidup bersama seperti gotong royong, kearifan lokal dan nilai kekeluargaan yang
kuat. Relasi ini hidup tanpa tujuan tertentu, tanpa beban teologis dan tanpa struktur formal, namun justru menjadi ruang maha luas bagi terwujudnya harmoni dan penghargaan terhadap perbedaan. Dengan menggunakan pendekatan literatur dari teori hospitalitas Amos Yong, persahabatan lintas agama dari Yahya Wijaya, serta kritik Marcus Mietzner dan Burhanuddin Muhtadi terhadap pluralisme formal, saya mengusulkan perlunya rekonstruksi pendekatan dialog formal agar lebih terbuka terhadap praktik akar rumput sebagai sumber pembelajaran spiritual dan sosial. Relasi informal yang terbangun di antara umat beragama dapat menjadi peluang bagi lembaga agama dan negara untuk membumikan nilai-nilai toleransi secara lebih
nyata dan kontekstual.

Downloads

Published

2026-08-31