“Bergerak” dan “Berhenti”: Pertobatan Ekologi sebagai Respon Darurat Ekologi di Asia

  • Christiana Welda Putranti Universitas Kristen Duta Wacana

Abstract

Abstract


The ecological crisis has become a central issue of the world that increasingly concern today. Catastrophe because of natural destruction has become a alarming threat. Seven of the world's highest polluted countries are in Asia, and even the first ranks are one of the countries in Asia. This fact is surprising, because in fact some Asian religious traditions are friendly to nature because they puts people not masters over nature, but part of nature, which is the case and is supported by it. Therefore, it is important to lift back the various natural-friendly religious traditions of Asia as a joint effort to respond to the worsening ecological damage. This paper seeks to show the reality of ecological damage in Asia and Bali, and exposes the thought of Vandana Shiva which believes that ecological damage occurs because of the dominance of Purusha and the pre-departure of Prakriti that in Hindu cosmology is a Unity, then lifted the importance of the concept of ' stopping ' in two religious traditions, namely the concept of Nyepi in Hinduism in Bali and the Sabbath in the Bible. Ecological repentance is not just "moving" to fight for the friendliness of nature, but also remember to "stop" doing the actions that have worsened the damage.


Abstrak


Krisis ekologi dewasa ini telah menjadi isu sentral dunia yang semakin hari semakin memprihatinkan. Bencana akibat kerusakan alam telah menjadi ancaman yang sangat mengkhawatirkan. Tujuh dari sepuluh negara dengan polusi tertinggi di dunia terdapat di Asia, bahkan yang menduduki peringkat pertama adalah salah satu negara di Asia. Hal ini mengejutkan, sebab sebenarnya beberapa tradisi religius Asia sangat ramah terhadap alam karena menempatkan manusia bukan tuan atas alam, tetapi bagian dari alam, yang menopang dan ditopang olehnya. Oleh karena itu, penting untuk mengangkat kembali berbagai tradisi religius Asia yang ramah terhadap alam sebagai upaya bersama untuk menyikapi kerusakan ekologi yang semakin parah. Tulisan ini berupaya memperlihatkan realita kerusakan ekologi di Asia dan Bali, serta memaparkan pemikiran Vandana Shiva yang meyakini bahwa kerusakan ekologi terjadi karena dominasi purusha dan pengabaian prakriti yang dalam kosmologi Hindu merupakan satu kesatuan, kemudian mengangkat pentingnya konsep ‘berhenti’ dalam dua tradisi religius, yaitu konsep Nyepi dalam Hindu di Bali dan Sabat dalam Alkitab. Pertobatan ekologis bukan hanya dengan “bergerak” memperjuangkan keramahan terhadap alam, tetapi juga ingat untuk “berhenti” melakukan tindakan yang memperparah kerusakannya.

Published
2021-02-17
How to Cite
PUTRANTI, Christiana Welda. “Bergerak” dan “Berhenti”: Pertobatan Ekologi sebagai Respon Darurat Ekologi di Asia. Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies, [S.l.], v. 1, n. 1, p. 89-103, feb. 2021. ISSN 2776-9208. Available at: <https://journal-theo.ukdw.ac.id/index.php/aradha/article/view/533>. Date accessed: 28 july 2021. doi: https://doi.org/10.21460/aradha.2021.11.533.