I Dont Belong: Membaca Kembali Keluaran 2 : 11 - 15 melalui Kritik Psikologi Andrew Kille
DOI:
https://doi.org/10.21460/aradha.2025.53.1447Keywords:
dissociative identity sisorder, Musa, psychological biblical criticism, Andrew Kille, MosesAbstract
Abstract
Dissociative Identity Disorder (DID) is a condition characterized by the presence of two or more distinct identities, each with its own personality, memories, behaviors, and even ways of speaking. Moses, a Hebrew born to a Levite family and raised in the Egyptian court, exhibits a unique dynamic between his dual identities. This complexity is evident in Exodus 2:11-15, where Moses kills an Egyptian oppressing a Hebrew and later intervenes in a conflict between two Hebrews. When his actions become known, Moses flees to Midian. This paper aims to explore whether Moses's behavior in this passage can be interpreted as a manifestation of DID, using Andrew Kille's Psychological Biblical Criticism as a framework. The goal is to provide a deeper understanding of the identity dynamics in Exodus 2:11-15.
Abstrak
Dissociative Identity Disorder merupakan kondisi ketika seorang individu memiliki dua atau lebih identitas, yang memiliki kepribadian berbeda-beda. Masing-masing identitas memiliki sifat, memori, tingkah laku, dan bahkan gaya berbicara yang berbeda. Musa merupakan keturunan Lewi, orang Ibrani, yang dibesarkan dalam tradisi kerajaan Mesir. Dinamika dua identitas yang ia miliki ini diyakini menunjukkan kompleksitasnya dalam narasi
Keluaran 2:11–15. Narasi menunjukkan bahwa Musa membunuh orang Mesir yang sedang menindas orang Ibrani, kemudian juga menunjukkan Musa yang menegur dua orang Ibrani yang kedapatan berkelahi. Oleh karena pembunuhan yang dilakukan Musa terungkap, ia kemudian melarikan diri ke Midian. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan untuk meneliti apakah Musa termasuk dalam kategori individu dengan Dissociative Identity Disorder, dengan menggunakan Psychological Biblical Criticism yang diperkenalkan oleh Andrew Kille. Kritik ini bertujuan untuk memahami mengapa seseorang berperilaku demikian. Untuk melakukannya, penafsir perlu mengkaji perilaku manusia, termasuk intuisi, ingatan, persepsi, kepribadian, dan banyak faktor lain di bidang tersebut. Harapannya, hasil pembacaan yang dihasilkan dapat memberikan pemahaman yang terjadi atas dinamika yang ada dalam narasi Keluaran 2:11–15.


