Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital: Ketidakadilan Hak Petani dan Eksploitasi Alam pada Konflik Agraria dalam Jerat Kapitalisme di Indonesia Melalui Lagu “Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital” Karya Efek Rumah Kaca
DOI :
https://doi.org/10.21460/aradha.2025.53.1583Mots-clés :
injustice, farmers, capitalism, Pieris, nature, contextual theology, ketidakadilan, petani, kapitalisme, alam, teologi kontekstualRésumé
Abstract
This article provides an explanation of the reality of human injustice and greed towards others and nature. Agrarian conflict is a growing issue, and it is crucial for us to collectively pay attention to farmers's rights to their land, as well as the state of nature that continues to be exploited by capitalists seeking continuous profit. In reviewing this reality, the author reflects on the song by Efek Rumah Kaca, entitled "There is no God but the Capitalist." The discussion continues with a contextual theological perspective, specifically linking the thought of Aloysius Pieris to theology in the Asian context and examining its impact on disrupting the natural balance in Indonesia. In the Asian context, poverty and religiosity must lead us to a liberating theology. Therefore, every human being needs to increase their sensitivity to build a universal faith and stand alongside the oppressed to plant the seeds of justice for a more humane and peaceful world. It is the duty of every person, regardless of religion, to be God's partner in the welfare of fellow human beings and the universe He has given us.
Abstrak
Artikel ini memberikan penjabaran terkait realita ketidakadilan dan keserakahan manusia terhadap sesama dan alam. Konflik agraria menjadi isu yang terus meningkat dan penting untuk kita bersama menaruh perhatian kepada hak petani terhadap tanahnya, juga keadaan alam yang terus dikeruk oleh pihak kapital yang ingin terus-menerus meraih keuntungan. Dalam meninjau realita ini, penulis berefleksi dari lagu karya Efek Rumah Kaca yang berjudul “Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital”. Pembahasan dilanjutkan dengan membahas sudut
pandang teologi kontekstual, khususnya mengaitkan dengan pemikiran Aloysius Pieris untuk berteologi dalam konteks Asia dan dan melihat bagaimana dampaknya yang mengganggu keseimbangan alam di negara Indonesia. Dalam konteks Asia, kemiskinan dan religiositas harus membawa kita pada teologi yang membebaskan. Maka dari itu, setiap manusia perlu untuk meningkatkan kepekaannya untuk membangun iman yang universal dan dapat berdiri bersama dengan mereka yang tertindas untuk bisa menanam benih keadilan demi dunia yang lebih manusiawi dan penuh dengan kedamaian. Sudah menjadi tugas bagi setiap orang dari
agama apapun untuk bisa menjadi mitra Allah yang mensejahterakan sesama manusia dan alam semesta yang telah Ia berikan pada kita.


