Menenun Relasi Antara Manusia, Alam dan Yang Ilahi: Sebuah Refleksi Teologi Ekologi Melalui Sesajen dan Worldview Masyarakat Jawa dengan Model Teologi Kontekstual Menurut Bevans

Auteurs-es

  • Nethania Ranitta Adventie Universitas Kristen Duta Wacana

DOI :

https://doi.org/10.21460/aradha.2025.53.1598

Mots-clés :

alam, ekologi, etika, sesajen, relasi, teologi kontekstual, tradisi Jawa, nature, ecology, ethic, relation, contextual theology, Javanese tradition

Résumé

Abstract
The ecological crisis is a phenomenon that is currently occurring widely in various parts of the world, including Indonesia. Natural disasters are a common phenomenon and already part of the natural cycle, but they are different from anthropogenic disasters caused by human actions. In this article, the author starts from concern about the separation of the relation between human and nature, who are fellow creatures of God. Through this concern, the author attempts to review the shift of the relation between human, nature and the Divine, and strive to reconnect through the sesajen tradition of offerings in the worldview of Javanese society. This review utilizes Contextual Theology developed by Stephen B. Bevans and builds upon Aloysius Pieris’ Asian Theology. Through writing this article, it was found that Western Theology, which is dominant in Christian religious teaching, has had a significant impact on disconnection between human and nature. This is vastly different from Asian Theology that is represented by the worldview of Javanese society, namely the close relationship between human and nature which is connected with the Divine through sesajen tradition. Robert P. Borrong stated that the world is dominated by the technosphere and must be balanced by the ethosphere, human ethics in relation to the environment. Recognizing this, the ethics of solidarity becomes a Christian ecological ethic that seeks to weave harmony into the relationship between human and nature.

Abstrak
Krisis ekologi merupakan fenomena yang sedang banyak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Bencana alam merupakan fenomena yang lumrah dan sudah merupakan bagian dari siklus alam, namun berbeda dengan bencana antropogenik yang disebabkan oleh ulah manusia. Dalam artikel ini, penulis berangkat dari keresahan akan keterpisahan relasi antara manusia dengan alam yang merupakan sesama makhluk ciptaan Allah. Melalui keresahan ini, penulis berusaha meninjau pergeseran relasi antara manusia, alam, dan Yang Ilahi dan berupaya menenun kembali melalui tradisi sesajen dalam pandangan dunia masyarakat Jawa. Peninjauan ini menggunakan Teologi Kontekstual yang dikembangkan oleh Stephen B. Bevans
dengan mengangkat Teologi Asia oleh Aloysius Pieris. Melalui penulisan artikel ini, ditemukan bahwa Teologi Barat yang dominan dalam pengajaran Agama Kristen banyak memberikan dampak terhadap keterputus-hubungan antara manusia dengan alam. Hal ini jauh berbeda dengan Teologi Asia yang direpresentasikan oleh pandangan dunia masyarakat Jawa, yakni relasi erat antara manusia dengan alam yang juga terhubung dengan Yang Ilahi melalui tradisi sesajen. Robert P. Borrong menyebutkan bahwa dunia sekarang didominasi teknosfer
dan harus diimbangi oleh etosfer, etika manusia dalam berhubungan dengan lingkungan. Menyadari hal tersebut, maka etika solidaritas menjadi etika ekologi Kristen yang berusaha menenun keharmonisan relasi antara manusia dengan alam.

Téléchargements

Publié

2026-03-09