Tuhan Yang Mahatahu VS AI Yang Mahatahu
DOI:
https://doi.org/10.21460/aradha.2026.61.1563Keywords:
artificial intelligence (AI), theology, transhumanism and posthumanism, love, human-technology relationship, kecerdasan buatan (AI), teologi, transhumanisme dan posthumanisme, cinta, relasi manusia dan teknologiAbstract
Abstrak
Paper ini membahas keterkaitan antara perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan teologi Kristen di era modern. Di tengah kemajuan pesat teknologi, AI tidak hanya digunakan dalam bidang industri dan sosial, tetapi juga mulai memasuki wilayah spiritual dan eksistensial manusia, memunculkan pertanyaan apakah AI dapat menggantikan peran Tuhan sebagai sumber makna, kebenaran, dan cinta itu sendiri. Melalui pendekatan teologis dan perbandingan antara transhumanisme dan posthumanisme, paper ini menyoroti bahwa meskipun AI sangat canggih dalam memproses informasi, memberikan jawaban dengan cepat, ia tetap tidak memiliki kapasitas untuk mencintai, merasakan, atau menjalin hubungan sejati seperti antara manusia dengan sesame maupun dengan Tuhan. Relasi yang otentik, cinta agape, dan kesadaran spiritual hanya dapat terjadi dalam hubungan antarmanusia dan antara manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, AI seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman atau pengganti Tuhan, melainkan sebagai alat yang perlu digunakan secara etis dan sadar untuk menunjang kehidupan manusia yang lebih relasional, bermakna, dan ilahi.
Abstract
This paper discusses the interrelation between the development of Artificial Intelligence (AI) and Christian theology in the modern era. Amid rapid technological advancements, AI is not only utilized in industrial and social fields but has also begun to enter the spiritual and existential dimensions of human life. This raises the question of whether AI could replace the role of God as the ultimate source of meaning, truth, and love itself. Through a theological approach and a comparative analysis between transhumanism and posthumanism, this paper emphasizes that although AI possesses advanced capabilities in processing information and providing quick responses, it still lacks the capacity to love, to feel, or to build genuine relationships—either among humans or between humans and God. Authentic relationships, agape love, and spiritual awareness can only occur within human-to-human and human-to-God connections. Therefore, AI should not be regarded as a threat or a substitute for God, but rather as a tool to be used ethically and consciously to support a more relational, meaningful, and divine human life.


