Liturgi Trotoar: Lived Religion dan Resistensi Profetik Pengamen Jalanan di Banjarmasin Tengah

Authors

  • Idrus Sasirais Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis
  • Bimbing Kalvari Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis
  • Desi Priolina Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

DOI:

https://doi.org/10.21460/gema.2026.112.1614

Keywords:

Banjarmasin, pengamen jalanan, resistensi profetik, teologi pembebasan, liberation theology, lived religion, prophetic resistance, street buskers

Abstract

Abstract
This study explores the spirituality of street buskers in Central Banjarmasin as resilient theological subjects in the context of urban poverty in Indonesia. Adopting an ethnographic-phenomenological approach interpreted through Gustavo Gutiérrez’s Liberation Theology and Nancy T. Ammerman’s Lived Religion, the research reveals the transformation of profane street spaces into locus theologicus. Through participant observation and in-depth interviews with six buskers during October–December 2025, a unique “resilient spirituality” is uncovered: (1) the street as a liturgical space where selawat and songs become prayers; (2) vulnerable bodies as theological texts resisting dehumanization; (3) sabar (patience) as a moral strategy against structural stigma; and (4) communal solidarity as an orthopraxis. This article argues [1.1] that buskers’ spirituality serves as a contextual critique of institutional theology, urging an inclusive understanding of divinity that favors the marginalized in contemporary Indonesian society, in line with the demands of contextual theology to reflect socio-cultural-religious realities.

Abstrak
Studi ini mengeksplorasi dimensi spiritualitas pengamen jalanan di Banjarmasin Tengah sebagai subjek teologis yang resilien dalam konteks kemiskinan urban Indonesia. Mengadopsi pendekatan etnografi fenomenologis yang diinterpretasikan melalui Teologi Pembebasan Gustavo Gutiérrez dan konsep Lived Religion Nancy T. Ammerman, penelitian ini mengungkap transformasi ruang profan jalanan menjadi locus theologicus. Melalui
observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan enam pengamen selama periode Oktober–Desember 2025, ditemukan praktik “spiritualitas ketangguhan” yang unik: (1) jalanan sebagai ruang liturgi di mana selawat dan nyanyian menjadi doa; (2) tubuh rentan sebagai teks teologis perlawanan terhadap dehumanisasi; (3) sabar (kesabaran) sebagai strategi moral melawan stigma struktural; dan (4) solidaritas komunal sebagai bentuk ortopraksis. Artikel ini berargumen bahwa spiritualitas pengamen merupakan kritik kontekstual terhadap teologi institusional, mendorong pemahaman keilahian yang inklusif dan berpihak pada kaum marjinal di masyarakat Indonesia kontemporer, sejalan dengan tuntutan teologi kontekstual untuk merefleksikan realitas sosio kultural-religius.

Downloads

Published

27-10-2026