Telaah Kebebasan Perspektif Agustinus dalam Lukas 15:11-32 dan Kaitannya dengan Homo Digitalis

Authors

  • Brogian Ribhato Universitas Katolik Widya Mandira
  • Siprianus Soleman Senda Universitas Katolik Widya Mandira

DOI:

https://doi.org/10.21460/gema.2026.111.1266

Keywords:

freedom, Homo Digitalis, the youngest child, kebebasan, anak bungsu

Abstract

Abstract
A narrow understanding of freedom—namely, freedom from all laws and norms—leads humans into disorientation. This can be observed in Homo Digitalis, who regard themselves as free individuals. In this article, the author seeks to challenge this view by examining the concept of freedom in Homo Digitalis and in the youngest son in Luke 15:11–32, analyzed through Augustine’s perspective. This article employs a literature-based method. The results indicate that both Homo Digitalis and the youngest son are not truly free, as freedom is understood as a state of volition that culminates in virtue. Consequently, it can be argued that Homo Digitalis represents the character of the youngest son in the parable of the prodigal son.

Abstrak
Pandangan tentang konsep kebebasan secara sempit yakni merdeka dari segala hukum dan norma membawa manusia pada disorientasi nilai. Hal itu bisa dilihat dalam diri Homo Digitalis yang menganggap diri sebagai orang-orang yang bebas. Dalam artikel ini penulis berusaha untuk menyangkal pandangan itu dengan menelaah kebebasan Homo Digitalis dan anak bungsu dalam teks Lukas 15:11-32 dan menganalisisnya dengan menggunakan perspektif Agustinus. Penulisan artikel ini menggunakan metode kepustakaan. Hasilnya menunjukkan bahwa baik Homo Digitalis maupun anak bungsu bukanlah orang-orang yang bebas, karena kebebasan selalu dimengerti sebagai status kehendak yang mengarah kepada kebaikan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Homo Digitalis merupakan representasi tokoh anak bungsu dalam kisah anak yang hilang.

Downloads

Published

30-04-2026